Batu Ginjal Lebih Mengincar Pria?

Ditulis tanggal 27. Nov, 2009 oleh dalam 1. Kesehatan Dewasa

Number of View: 14351

Aji, sebut saja namanya begitu, seorang eksekutif usia 44 tahun, pada suatu ketika mengeluh nyeri yang hilang timbul pada daerah pinggang kanan, demam tinggi, dan buang air kecilnya berwarna kemerahan. Tanpa berpikir panjang, ia pun dilarikan ke rumah sakit terdekat. Dari serangkaian hasil pemeriksaan, baru diketahui bahwa Aji mengidap penyakit batu saluran kemih. Dari hasil foto ronsen dan CT-scan, diketahui batu pada ginjal kanan Aji. Oleh dokter, Aji pun disarankan untuk dirawat dan direncanakan dilakukan operasi pengangkatan batu ginjal tersebut.

Tentunya dari ilustrasi kasus tersebut, muncul beragam pertanyaan dalam benak kita. Sebenarnya apa itu penyakit batu ginjal? Kenapa bisa terbentuk batu? Siapa saja yang rentan mengalami itu? Benarkah anggapan bahwa batu ginjal lebih sering terjadi pada pria? Apa gejalanya bila kita mempunyai batu ginjal? Apa yang harus dilakukan dan, bagaimana upaya mencegah batu ginjal? Tulisan berikut akan mencoba memaparkan hal tersebut untuk Anda.

Mengenal Ginjal

Sistem saluran kemih tersusun dari ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Ginjal, organ yang berbentuk seperti kacang mede, menjaga keseimbangan cairan dan zat-zat dalam tubuh melalui  pembuangan kelebihan air dan zat-zat produk sisa metabolisme dari darah dengan mengubahnya menjadi air seni (urin). Urin kemudian dialirkan oleh ureter – saluran berotot yang panjang namun berdiameter sempit – menuju kandung kemih. Kandung kemih merupakan tempat penyimpanan urin, sebelum dibuang ke luar tubuh melalui uretra.

Apa itu penyakit batu ginjal?

Penyakit batu ginjal merupakan masalah kesehatan yang cukup bermakna, baik di Indonesia maupun di dunia. Batu ginjal lebih sering terjadi bila dibandingkan batu kandung kemih. Di Indonesia, data yang dikumpulkan dari rumah sakit di seluruh Indonesia pada tahun 2002 adalah sebanyak 37.636 kasus baru dengan jumlah kunjungan sebesar 58.959 orang. Sedangkan jumlah pasien yang dirawat adalah sebesar  19.018 orang, dengan jumlah kematian adalah sebesar 378 orang. Batu ginjal yang paling sering terbentuk adalah batu kalsium oksalat (80%). Jenis batu lainnya yang tersering berturut-turut adalah batu asam urat, batu kalsium fosfat, batu struvit, dan batu sistin.

Apa gejalanya?

Gejala yang paling sering dikeluhkan pada penyakit batu ginjal adalah nyeri yang hilang timbul pada pinggang. Nyeri kadang dirasakan sangat tajam bahkan penderita dapat berguling-guling menahan sakit karenanya. Gejala nyeri ini berkaitan dengan keadaan turunnya batu ke saluran ureter, kemudian akibat kontraksi ureter sebagai upaya mengeluarkan batu dapat timbul iritasi. Hal ini mengakibatkan air seni penderita dapat berwarna kemerahan. Nyeri atau perasaan panas saat berkemih juga dapat dirasakan penderita. Gejala lainnya dapat berupa demam bila diserta adanya infeksi. Atau penderita merasakan perasaan tidak lampias ketika berkemih adanya batu yang menyumbat aliran urin.

Siapa yang rentan mengalami?

Berikut adalah mereka yang lebih rentan mengalami penyakit batu ginjal:

  • Lelaki lebih sering mengalami penyakit batu ginjal dibanding wanita.

Angka kejadiannya bervariasi. Diperkirakan penyakit batu ginjal terjadi sebesar 13% pada laki-laki dewasa dan 7% pada perempuan dewasa. Lelaki dikatakan memiliki risiko dua hingga empat kali lebih besar dibandingkan perempuan. Dari penelitian Chen, hal ini dipengaruhi oleh reseptor hormon androgen yang ada pada lelaki.

  • Usia antara dekade 3 – 5 (35 – 55 tahun) lebih sering mengalami dengan rata-rata usia sekitar 45 tahun pada lelaki dan 55 tahun pada perempuan.
  • Penderita gemuk (obesitas) lebih sering mengalami batu ginjal dibandingkan yang tidak gemuk
  • Lokasi geografis tertentu

Penduduk yang tinggal di Asia memiliki risiko yang paling rendah mengalami penyakit batu ginjal sedangkan risiko tertinggi terdapat di Arab Saudi.

Mengapa bisa terbentuk batu ginjal?

Batu ginjal terbentuk akibat ketidakseimbangan antara zat-zat yang meningkatkan risiko pembentukan batu dengan zat-zat yang menghambat pembentukan batu ginjal (yakni sitrat). Ketidakseimbangan ini mengakibatnya terjadinya kristalisasi dalam urin yang pada akhirnya membentuk batu. Kondisi-kondisi tertentu yang memudahkan terbentuknya batu ginjal:

  • Hiperkalsiuria yakni tingginya kadar kalsium dalam urin
  • Hiperurikosuria yakni tingginya kadar asam urat dalam urin
  • Penurunan jumlah air kemih akibat kurangnya jumlah cairan yang diminum.
  • Seringnya mengonsumsi jenis cairan tertentu seperti soft drink, jus apel dan jus anggur.
  • Seringnya mengonsumsi makanan yang tinggi protein dan tinggi garam
  • Seringnya mengonsumsi vitamin C dosis tinggi

Bagaimana mengobatinya?

Pengobatan penyakit batu ginjal, pada dasarnya tergantung dari faktor batu (yakni ukuran, jumlah, jenis dan lokasi), faktor anatomi ginjal (misalnya tingkat keparahan sumbatan, ada tidaknya kelainan bawaan dari lahir), dan faktor dari penderitanya (ada tidaknya infeksi, kegemukan, ada tidaknya gangguan pembekuan darah, anak-anak ataukah orang  usia lanjut, penyakit darah tinggi dan gagal ginjal). Umumnya, batu dengan ukuran kecil tidak menimbulkan keluhan dan biasanya akan keluar dengan sendirinya bersama aliran urin. Jadi, tidak harus selalu dilakukan operasi pembedahan. Pilihan pengobatan selain operasi adalah:

  1. percutaneus nephrolithotomy (PNL) yakni prosedur dimana dokter akan membuat sayatan kecil pada daerah pinggang penderita lalu dengan menggunakan alat khusus, lokasi batu ditentukan kemudian dihancurkan atau dipindahkan. Pecahan batu diharapkan akan keluar bersama aliran urin.
  2. ureterorenoskopi (URS) biasanya dilakukan bila batu sudah turun sampai ke ureter. Prosedur ini biasanya tidak dilakukan sayatan karena suatu alat akan dimasukkan melalui kemaluan (uretra). Dari uretra, alat akan melewati kandung kemih dan terakhir, mencapai ureter.
  3. extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL) adalah pengobatan non invasif yang menggunakan gelombang kejut berkekuatan tinggi. Gelombang ini dihasilkan oleh suatu alat khusus, di luar tubuh penderita, lalu ditembakkan ke batu ginjal atau ureter. Tujuan dari metode ini adalah untuk memecah batu menjadi partikel-partikel yang cukup kecil sehingga dapat melewati ureter tanpa menimbulkan nyeri yang berarti.

Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada adanya batu ginjal, terutama nyeri hilang timbul pada daerah pinggang atau perut bagian bawah, sebaiknya Anda segera menghubungi dokter atau rumah sakit terdekat. Dokter akan menentukan terapi mana yang sesuai dengan kondisi Anda.

Bagaimana mencegahnya?

Sejatinya, pencegahan adalah lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terbentuknya penyakit batu ginjal.

  • Banyak minum. Minumlah air putih secara cukup sehari, minimal delapan gelas sehari. Perbanyak minum terutama malam hari, karena akan meningkatkan aliran urin dan menurunkan jumlah zat-zat pembentuk batu dalam urin. Dianjurkan minum air jeruk nipis atau lemon setelah makan malam.
  • Hindari minuman bersoda (soft drink) lebih dari 1 liter perminggu.
  • Kurangi berat badan bagi Anda yang kegemukan.
  • Kurangi makanan dengan kandungan protein tinggi.
  • Kurangi mengonsumsi vitamin C dosis tinggi.
  • Batasi penggunaan garam (natrium).
  • Tidak mengurangi makanan atau minuman berkalsium.
  • Obat-obatan. Hubungi dokter Anda untuk memilih jenis obat yang sesuai.

Referensi:

  1. HTA Indonesia. Penggunaan ESWL pada batu saluran kemih. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Departemen Kesehatan RI. 2005
  2. Chen WC, Wu HC, Lint WC, Wu MC, Hsu CD, Tsai FJ. The association of androgen- and oestrogen-receptor gene polymorphisms with urolithiasis in men. BJU International 2001;88(4):432-436.
  3. Shokouhi B, Gasemi K, Norizadeh E. Chemical composition and epidemiological risk factors of urolithiasis in Ardabil Iran. Research Journal of Biological Sciences 2008;3(6):620-626.
  4. Sja’bani M. Batu saluran kemih. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editors. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-4. Jakarta: Pusat penerbitan ilmu penyakit dalam FKUI; 2006. hal. 563-568.

Artikel ini ditulis oleh dr.M.Adi Firmansyah, dan dimuat dalam majalah Anakku edisi Oktober 2009.

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.