Kenali Kanker Serviks Lebih Dekat

Ditulis tanggal 03. Dec, 2009 oleh dalam 1. Kesehatan Dewasa

Number of View: 11507

Kanker serviks berada di posisi pertama dalam urutan kanker pada perempuan. Di dunia, setiap tahun sekitar 500 ribu perempuan diketahui menderita kanker serviks dan dari angka tersebut, 250 ribu meninggal dunia. Seberapa kenal Anda dengan kanker penyebab kematian ini? Ulasan berikut akan mengajak Anda untuk mengenali lebih dekat.

1. Sebenarnya apa itu kanker serviks?

Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada daerah leher rahim atau disebut juga serviks. Serviks adalah bagian dari rahim yang terletak di antara rahim dan liang senggama (vagina). Lokasi leher rahim ditunjukkan dalam gambar berikut ini.

serviks

Gambar Skematik Organ Reproduksi Perempuan

2. Seberapa sering perempuan menderita kanker serviks?

Kanker serviks berada di posisi pertama dalam urutan kanker pada perempuan. Di dunia, setiap tahun sekitar 500 ribu perempuan diketahui menderita kanker serviks dan dari angka tersebut, 250 ribu meninggal dunia. Kebanyakan, kematian akibat kanker serviks ini terjadi di negara-negara berkembang termasuk Indonesia dan di Indonesia sendiri, diduga terjadi 41 kasus baru kanker serviks setiap harinya dan 20 perempuan Indonesia, meninggal dunia karena penyakit tersebut.

3.  Apa yang menjadi penyebab terjadinya kanker serviks?

Kanker serviks diduga disebabkan oleh infeksi virus yang dikenal dengan nama Human Papilloma Virus (HPV). Infeksi HPV ini ditularkan melalui hubungan seksual. HPV ini sendiri ada yang tipe risiko tinggi menyebabkan kanker serviks. Terdapat 19 tipe HPV risiko tinggi yang dapat menyebabkan kanker serviks. Namun HPV tipe 16 dan 18 diketahui menyebabkan kanker serviks sebanyak 70%. Ada juga tipe HPV yang berisiko rendah (misalnya tipe 6 dan 11).

4. Bagaimana infeksi HPV dapat menjadi kanker serviks?

Kanker serviks terjadi pada infeksi HPV yang menetap. Saat terjadi infeksi HPV pertama, perkembangan apakah akan menjadi kanker serviks tergantung dari jenis HPV resiko tinggi atau rendah. Sel serviks kemudian mengalami perubahan dan ini disebut lesi prakanker. Lesi prakanker ini sendiri dapat dikenali dengan pemeriksaan skrining.

Umumnya infeksi HPV dapat sembuh dengan sendirinya dalam 1-2 tahun. Hal ini disebabkan adanya sistem kekebalan tubuh alami tubuh kita. Namun, infeksi HPV menetap yang disebabkan oleh tipe HPV risiko tinggi (tipe 16 atau 18) dapat berkembang menjadi kanker serviks.

5. Jika saya terinfeksi HPV, apakah saya pasti menderita kanker serviks?

Belum tentu. Infeksi HPV menjadi kanker serviks tergantung dari tipe HPV yang menginfeksi. Bila yang menginfeksi adalah HPV tipe risiko tinggi (tipe 16 dan 18), maka 70% akan berkembang menjadi kanker serviks. Sebaliknya, bila yang menginfeksi adalah HPV tipe risiko rendah (tipe 6 dan 11) hampir tidak beresiko menjadi kanker serviks namun dapat menyebabkan timbulnya kutil pada kelamin (genital warts).

6. Apakah kanker serviks dapat menular?

Kanker serviks sebenarnya bukan penyakit menular dan bukan penyakit turunan. Seorang laki-laki tidak akan otomatis menderita kanker di alat kelaminnya setelah berhubungan seksual dengan perempuan pengidap kanker serviks. Namun, sebenarnya yang ditularkan adalah infeksi dari Human Papilloma Virus.

7. Siapa saja yang berisiko menderita kanker serviks?

Sebenarnya setiap perempuan yang pernah melakukan hubungan seksual berisiko terhadap kanker serviks. Namun, ada beberapa faktor yang menjadikan risiko terkena kanker serviks menjadi lebih tinggi yakni:

  • Usia saat pertama kali melakukan hubungan seksual dibawah 20 tahun.
  • Perilaku berganti-ganti mitra seksual, terutama lebih dari 4 mitra.
  • Berhubungan seksual dengan lelaki yang pernah berhubungan seksual dengan perempuan yang menderita kanker serviks.
  • Pola makan yang jarang mengonsumsi buah dan sayuran.
  • Infeksi HPV tipe risiko tinggi yakni tipe 16 atau 18.
  • Adanya infeksi HIV yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh.
  • Adanya riwayat kanker serviks dalam keluarga
  • Merokok akibat adanya bahan-bahan yang memudahkan terjadinya kanker (karsinogen) di dalam rokok.

8. Apa saja gejala dari kanker serviks yang harus saya cermati?

Bila masih dalam tahap prakanker, secara umum, kanker serviks tidak menimbulkan gejala. Jika ada, biasanya gejala akibat adanya infeksi HPV misalnya keputihan. Bila dilakukan pemeriksaan skrining misalnya tes Pap Smear, akan ditemukan adanya sel-sel serviks yang tidak normal.

Bila infeksi menetap dan sel-sel yang tidak normal ini berkembang menjadi kanker serviks, baru akan timbul gejala-gejala seperti:

  1. pendarahan dari liang senggama (vagina) seusai berhubungan seksual, pendarahan haid yang lebih banyak dan lebih lama dari biasanya, dan pendarahan di antara siklus haid yang biasa.
  2. rasa sakit atau nyeri saat berhubungan seksual
  3. bila kanker sudah pada tahap lanjut, biasanya dapat terjadi pendarahan spontan dan nyeri pada panggul meski sedang tidak berhubungan seksual, dapat pula terjadi gangguan buang air kecil, gangguan buang air besar, berat badan menurun drastis, nafsu makan menurun, ataupun rasa nyeri pada pinggang bagian bawah akibat adanya penekanan pada saraf.

Jika Anda mengalami salah satu gejala ini, jangan tunda untuk menghubungi dokter. Gejala-gejala ini tidak selalu disebabkan kanker serviks, namun boleh jadi merupakan tanda adanya infeksi pada liang senggama yang perlu segera mendapat penanganan.

9. Apakah kanker serviks ini bisa dikenali lebih dini?

Jawabnya bisa. Pemeriksaan skrining semisal Pap Smear dapat mengenali adanya perubahan-perubahan pada sel serviks. Sel-sel serviks yang tidak normal ini biasanya menandai adanya lesi prakanker.

Selain tes Pap Smear, pemeriksaan skrining yang dapat dilakukan tes dengan asam asetat (inspeksi visual asetat – IVA), dan pemeriksaan DNA HPV. Anda dapat menanyakannya pada dokter Anda.

10. Saya pernah mendengar pemeriksaan Pap Smear. Apa sebenarnya Pap Smear itu?

Pap Smear merupakan salah satu pemeriksaan skrining untuk kanker serviks yang paling sering dilakukan. Metodenya adalah dengan melakukan usapan pada serviks dengan alat khusus yang dibuat dari batang kayu atau plastik. Selanjutnya usapan ini dioleskan ke atas potongan kaca dan diwarnai dengan pewarnaan khusus, untuk selanjutnya diperiksa dengan mikroskop untuk mencari adanya sel ganas atau sel yang diperkirakan akan dapat berubah menjadi ganas. Pemeriksaan ini sangat sederhana, tidak sakit, dan memakan waktu tidak lebih dari 10 menit, serta relatif murah. Namun, pemeriksaan ini jangan dilakukan pada saat haid karena darah pada haid dapat menyulitkan pencarian sel-sel ganas.

11. Apa artinya bila hasil Pap Smear saya tidak normal?

Hasil tes Pap Smear disebut tidak normal (abnormal) bilamana ditemukan sel-sel yang berasal dari serviks yang memberikan gambaran yang berbeda dari sel normal pada umumnya. Umumnya ini terjadi pada tahapan lesi prakanker.

Bila kemudian pada tes Pap ditemukan kelainan, maka selanjutnya untuk memastikan diagnosis, akan dilakukan pengambilan sedikit jaringan serviks.

Ada beberapa keadaan mengenai hasil Pap Smear antara lain:

  1. sel-sel serviks sama sekali tidak terlihat. Bila ini terjadi, ada baiknya Pap Smear diulang.
  2. adanya infeksi atau peradangan, bisa akibat infeksi bakteri atau karena jamur. Konsultasikan dengan dokter mengenai masalah ini untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan tanyakan juga, kapan Anda perlu melakukan tes Pap Smear lagi.

12. Kapan sebaiknya melakukan pemeriksaan skrining kanker serviks?

Setiap perempuan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan skrining setiap tahun sejak tiga tahun aktif dalam hubungan seksual. Bilamana pada perempuan usia 30 tahun dan minimal sudah 3 kali melakukan skrining dengan hasil baik, maka skrining selanjutnya dapat dilakukan tiap 2 hingga 3 tahun sekali. Namun untuk mereka yang mempunyai faktor risiko sebaiknya rutin menjalani pemeriksaan ini setahun sekali. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sampai usia 70 tahun. Untuk usia di atas 70 tahun dan telah menjalani tiga tes skrining dengan hasil normal berurutan dan tidak ada hasil yang tidak normal dalam 10 tahun terakhir boleh menghentikan pemeriksaan skrining.

13. Bagaimana sebaiknya pengobatan bila sudah terkena kanker serviks?

Pengobatan yang diberikan tentunya bergantung pada tahapan mana saat didiagnosis sebagai kanker serviks. Pada prinsipnya, dikenal tiga jenis yakni operasi, penyinaran (radiasi), dan kemoterapi. Masing-masing penanganan ini dilakukan tim dokter sesuai tahapan kanker (dikenal dengan istilah stadium) yang dialami pasien. Tentunya dengan mempertimbangan manfaat dan risiko bagi pasien. Pada stadium lanjut, pilihan operasi tidak bisa dilakukan melainkan radiasi yang dibantu dengan kemoterapi.

14. Bila pengobatan sudah selesai, apakah masih perlu pemeriksaan selanjutnya?

Meski masa pengobatan sudah selesai, pemeriksaan lanjutan tetap harus diperlukan. Hal ini bertujuan untuk memperoleh kepastian bahwa daerah yang telah diobati, telah sembuh sama sekali. Juga untuk mengenali ada tidaknya komplikasi akibat terapi.

15. Saudara saya pernah menjalani operasi pengangkatan rahim, apakah ia masih perlu diskrining?

Jawabnya tergantung dari jenis operasi yang dilakukan oleh dokter. Prinsipnya adalah apakah masih ada atau tidak jaringan serviks. Tanyakan pada dokter jenis operasi apa yang dilakukan. Bila serviks ikut diangkat, maka saudara Anda tidak perlu lagi melakukan skrining. Sebaliknya, bila serviks tidak diangkat, maka tetap perlu melakukan skrining.

Hal lain yang perlu dilakukan adalah skrining rutin terhadap organ tubuh yang lain, apakah terkena kanker juga atau tidak. Hal ini mungkin terjadi karena sebelum diangkat ada sel kanker yang berasal dari serviks yang menyebar ke organ tubuh lain. Organ yang paling sering terkena penyebaran kanker dari serviks adalah paru, organ lain misalnya otak, hati dan tulang.

16. Apa yang harus saya lakukan agar terhindar dari kanker serviks?

Setiap perempuan yang pernah berhubungan seksual, berisiko mengidap kanker serviks. Ada beberapa kondisi yang dapat Anda lakukan antara lain:

  • Bila Anda sudah pernah melakukan hubungan seksual, lakukan pemeriksaan skrining secara teratur.
  • Kenali dan segera konsultaiskan ke dokter bilamana mendapatkan gejala-gejala yang tidak normal seperti adanya perdarahan terutama setelah berhubungan seksual.
  • Perbaiki pola makan dengan sering mengonsumsi buah dan sayuran. Kandungan antioksidan dalam buah dan sayuran, dipercaya dapat mencegah kanker.
  • Hindari faktor-faktor risiko yang memang dapat dihindari. Setialah pada pasangan Anda, begitu juga sebaliknya dengan pasangan Anda. Dan jangan pernah merokok. Data statistik melaporkan bahwa perempuan perokok mempunyai risiko terserang kanker serviks yang lebih tinggi.
  • Melakukan vaksinasi kanker serviks atau vaksin HPV, yang kini sudah ada di Indonesia. Vaksin HPV yang tersedia di Indonesia ditujukan untuk melindungi dari infeksi HPV tipe risiko tinggi (tipe 16 dan 18).

17. Siapa sajakah yang perlu mendapat vaksin kanker serviks?

Idealnya, kinerja vaksin akan meningkat bila diberikan pada perempuan yang belum mengalami infeksi HPV, khususnya infeksi HPV tipe 16 atau 18. Artinya, pada perempuan yang belum melakukan hubungan seksual dan diatas usia 10 tahun.

18. Berapa kali vaksin ini harus diberikan?

Vaksin HPV diberikan dalam 3 kali suntikan. Sebulan setelah suntikan pertama, dapat diberikan penguat (booster) pertama dan booster kedua, diberikan enam bulan setelah suntikan pertama.

19. Jika saya sudah divaksin, apakah saya masih perlu mengikuti skrining?

Benar. Sebaiknya Anda tetap melakukan pemeriksaan skrining meski telah divaksinasi. Vaksinasi melindungi Anda dari infeksi HPV tipe 16 atau 18 tapi tidak dari tipe yang lain. Pemeriksaan skrining akan dapat membantu menemukan kelainan sel serviks akibat infeksi HPV dari tipe selain 16 atau 18.  Jadi, kombinasi vaksin dan pemeriksaan skrining adalah hal yang sangat baik.

20. Saya sudah divaksin. Apakah artinya saya sudah kebal dari kanker serviks?

Vaksinasi yang tersedia di Indonesia hanya memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV tipe 16 dan 18. Sedangkan diketahui terdapat 19 tipe HPV risiko tinggi yang dapat menyebabkan kanker serviks. Artinya, vaksinasi memang tidak mencegah kanker serviks 100%. Namun vaksin sudah mampu melindungi dari infeksi HPV tipe 16 dan 18 yang menjadi 70% penyebab kanker serviks. Bila vaksinasi berhasil, maka kejadian kanker serviks pada seseorang dapat dicegah sebanyak 70%. Hal ini diluar faktor x yang mungkin saja menjadi penyebab kegagalan vaksinasi.

Referensi:

  1. Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T. Ilmu Kandungan. Edisi kedua. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1999.
  2. Yatim F. Penyakit Kandungan. Jakarta: Pustaka Populer Obor. 2005
  3. Rasyidi I. Panduan penatalaksanaan kanker ginekologi berdasarkan evidence base. Jakarta: EGC. 2007
  4. American Cancer Society. Cervical Cancer Detailed Guidelines. Tersedia pada:  http://www.cancer.org/docroot/CRI/content/CRI_2_4_7X_CRC_cervical_cancer_PDF.asp. Diakses pada April 2008.
  5. U.S Food & Drug Administration. FDA Licences New Vaccine for Prevention of Cervical Cancer and Other Diseases in Females Caused by Human Papillomavirus.2006.  Tersedia pada: http://www.fda.gov/bbs/topics/NEWS/2006/NEW01385.html.  Diakses pada April 2008.

Tags: , , , , , , ,

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.