Gerhana Matahari 15 Januari 2010

Ditulis tanggal 15. Jan, 2010 oleh dalam Islam, Other

Telah dibaca : 2827

Siang ini, saya mendapatkan pesan singkat (sms)dari teman istri, kabarnya sore ini, tanggal 15 Januari 2010 jam 15.15 WIB, akan terjadi gerhana matahari. Entah benar atau tidak, hanya Allah yang tahu. Namun kalau melihat langit, sepertinya agak sulit bagi kita untuk melihat fenomena alam ini, karena sebagian langit di Jakarta tampak mendung (soalnya saya baru saja dari bank untuk bayaran spp) dan gerimis mulai turun.

Gerhana yang diperkirakan berlangsung 11 menit 8 detik ini akan melewati Afrika bagian tengah, Samudra India, dan sebagian wilayah Indonesia. Titik maksimum gerhana hanya akan terjadi di Samudra Hindia, tetapi masyarakat yang tinggal, antara lain, di Afrika Tengah, Kenya, China, dan Myanmar bisa melihat fase gerhana cincin. Adapun total jalur penumbra gerhana ini mencapai 333 kilometer.

Sayangnya, di Indonesia fenomena alam ini hanya terlihat parsial atau sebagian. Proporsi gerhana yang paling besar terjadi di Aceh yang bisa mencapai 50 persen. Di Jakarta, Matahari hanya akan tertutup 11 persen.

Beberapa wilayah di Indonesia yang dapat menyaksikan gerhana adalah Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi. Proses gerhana yang dimulai dengan masuknya bayang-bayang Bulan di permukaan Bumi akan dimulai pukul 14.39 WIB. Puncak gerhana akan terjadi pada pukul 15.55 WIB.

Lama gerhana diperkirakan sekitar 2 jam, mulai dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Gerhana akan bisa dilihat di Jakarta pada pukul 14.33-16.00 WIB dengan kegelapan hanya 11 persen.

Gerhana matahari yang selama ini, lebih dari 11 menit, baru akan kembali terjadi 1.033 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 3043. Berdasarkan catatan, gerhana matahari selama ini hanya dikalahkan peristiwa tahun 1992, yaitu dengan waktu 11 menit 41 detik.

Sama halnya dengan gerhana Juli 2009 dimana saya sempat menyaksikan fenomena alam ini, meski hanya berlangsung dalam hitungan detik, bulan cuma akan menutup sebagian matahari saja. Karena pusat jalur Gerhana Matahari ini melewati daerah India dan Cina sana, sehingga di Indonesia cuma kebagian sebagian kecil bayangan dari Bulan.

Terlepas benar atau tidaknya perkiraan ini, bagi saya, dan untuk umat muslim lainnya, kita dianjurkan (disunahkan) melakukan shalat sunah gerhana matahari.

CARA SHALAT GERHANA:

Mengerjakan shalat 2 raka’at dengan mengeraskan bacaan padanya, menurut pendapat yang shahih dari dua pendapat ulama, membaca pada rakaat pertama surat Al Fatihah dan surat yang panjang seperti surat Al Baqarah atau yang seukuran dengannya, kemudian ruku’ dengan ruku’ yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya dan membaca:

“SAMI ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD”

Artinya, “Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami, bagi Engkaulah segala puji”

Setelah i’tidal, melakukan seperti shalat-shalat yang lainnya, kemudian membaca Al Fatihah dan surat yang lebih pendek dari yang pertama seukuran surat Ali ‘Imran, kemudian memanjangkan ruku’nya, lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian mengangkat kepalanya dan membaca,

” SAMI’ ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD, HAMDAN KATSIRAN THAYYIBAN MUBAARAKAN FIIHI, MIL’AS SAMAA’I WA MIL’AL ARDH, WA MIL’A MA SYI’TA MIN SYAI’IN BA’DU”

Artinya,

“Maha mendengar Allah terhadap orang yang memuji-Nya. Wahai Robb kami,bagi Engkaulah segala puji dengan pujian yang banyak, baik dan penuh keberkahan padanya, sepenuh langit, sepenuh bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari segala sesuatu sesudahnya”.

Kemudian sujud dua kali yang panjang dan tidak memperlama duduk diantara dua sujud, kemudian shalat untuk raka’at yang kedua seperti yang pertama dengan dua ruku’ dan dua sujud yang panjang, sebagaimana yang dikerjakan para raka’at yang pertama, kemudian tasyahud dan salam.

Inilah salat gerhana sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam dan sebagaimana yang diriwayatkan dari beliau tentang hal itu melalaui beberapa jalan, sebagiannya di Ash Shahihain.

Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu ‘Anha , “Matahari mengalami gerhana pada masa Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam, maka beliau berdiri, bertakbir, dan orang-orang berbaris dibelakang beliau. Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam membaca bacaan yang panjang lalu beliau ruku’ dengan ruku’ yang lama, kemudian mengangkat kepalanya dan mengucapkan, “SAMI’ ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANAA WA LAKA AL HAMDU”. Kemudian beliau berdiri dan membaca bacaan yang panjang lebih pendek dari bacaan yang pertama, lalu takbir dan ruku’ yang lama lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian mengucapkan, “SAMI’ ALLAAHU LIMAN HAMIDAH, ROBBANAA WA LAKA AL HAMDU”. Kemudian sujud. Lalu beliau mengerjakan yang seperti itu pada rakaat yang kedua hingga sempurna empat ruku’ dan empat sujud. Dan matahari kembali terlihat sebelum beliau selesai” (Muttafaqun ‘Alaih) [6]

Dan disunnahkan untuk shalat dengan berjama’ah berdasar perbuatan Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Dan Boleh untuk mengerjakan sendiri-sendiri, tetapi mengerjakannya dengan berjama’ah lebih utama.

Referensi:

  1. http://www.azk4.com/2009/01/gerhana-matahari-2009-2010-di-indonesia.html
  2. http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/01/23/tuntunan-shalat-gerhana/
  3. http://megapolitan.kompas.com/read/2010/01/15/10140911/Siang.Nanti.Gerhana.Matahari.Terlihat.di.Langit.Jakarta
Share

Tags: ,

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect. best vpn canada