Periode Perkembangan Hadits

Ditulis tanggal 17. Jan, 2010 oleh dalam Islam

Telah dibaca : 12059

Ketika wukuf di padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah, nabi Muhammad SAW bersabda, “Telah aku tinggalkan kepadamu dua perkara dan tidak akan tersesat kalian selamanya bila berpegang-teguh pada keduanya, yakni kitabullah (Al-Quran) dan sunnah rasulullah (Al-Hadits).”

Tidak ada yang meragukan pendapat bahwa hadits atau sunah adalah sumber hukum Islam kedua setelah Al-Quran. Hal ini disebabkan karena hadits berperan sebagai penjelas dari ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Quran. Seperti kita ketahui, di dalam Al-Quran, tak hanya terkandung ayat-ayat yang jelas (qath’i) namun juga ada yang samar (zhonni) sehingga disinilah letak peran hadits untuk memberikan penjelasan terperinci.

Banyak contoh yang membuktikan peran al-hadits. Salah satu contohnya adalah masalah sholat. Di dalam Al-Quran, banyak terdapat ayat yang memerintahkan kita untuk menunaikan sholat tetapi bagaimana tata cara sholat dilakukan tidak dijelaskan secara jelas. Oleh karena itulah, nabi Muhammad SAW menjelaskan bagaimana sholat harus dilakukan seperti bunyi hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim berikut:

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”.

Ataupun perintah berwudhu dan berhaji. Semuanya menjadi jelas oleh adanya hadits.

Hadits didefinisikan sebagai perkataan, perbuatan, ketetapan, ataupun akhlaq dari Rasulullah SAW yang diterjemahkan dalam bentuk tulisan. Namun dalam perjalanannya, tidak sedikit yang menyandarkan ungkapan-ungkapan kepada rasul, padahal sejatinya tidak pernah diungkapkan oleh Rasulullah. Inilah yang menyebabkan bermunculannya hadits-hadits palsu dan hadits dengan kualitas rendah.

Lalu bagaimana menentukan kualitas hadits? Ada cabang ilmu dalam Islam yang dikenal dengan musthalah al-hadits. Ilmu ini mempelajari periwayatan hadits dan kualitas dari hadits yang diriwayatkan. Dikenal istilah ilmu riwayah yang mempelajari cara penukilan, pemeliharaan, dan periwayatan sebuah hadits yang berasal dari rasulullah. Dikenal pula istilah ilmu dirayah yakni ilmu untuk mengetahui sanad (baik shahih, hasan, dhoif dan seterusnya), turunannya, cara menerima dan menyampaikan hadits, sifat-sifat hadits; syarat-syarat perawi dan yang sejenisnya.

Periode Perkembangan Hadits

Hadits telah melalui serangkaian perjalanan sejarah yang panjang sebagai sumber hukum Islam. Sedikitnya, tercatat tujuh masa atau periode perkembangan hadits dari zaman ke zaman.

Periode Pertama

Periode dimana turunnya wahyu dan pembentukan hukum serta dasar-dasarnya. Terjadi dari masa 13 Sebelum Hijriah hingga 11 Hijriah. Rasulullah hidup dan bergaul serta berbicara dengan masyarakat umum dna para sahabat. Baik di masjid, di rumah, di pasar ataupun tatkala bertemu dengan para musafir.

Periode Kedua

Disebut juga dengan zaman at-Tasabbut wal-Iqlal minar-Riwayah (periode Pembatasan Hadits dan Menyedikitkan Riwayah). Terjadi pada masa empat khalifah yakni Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Tholib.

Periode Ketiga

Dikenal sebagai zaman Intisyar ar-Riwayah ila al-Amtsar (periode Penyebaran Riwayat ke Kota-Kota). Masa ini terjadi pada zaman sahabat dan tabiin. Adanya peristiwa penaklukan atas wilayah Syam (Syiria) dan Irak pada tahun 17H, Mesir tahun 20H, Persia tahun 21 H, Samarkand tahun 56 H, dan Spanyol tahun 93 H oleh tentara Islam, mengharuskan para sahabat berpindah tempat dalam menyebarkan islam.

Periode Keempat

Disebut sebagai ‘Asr al-Kitabat wa at-Tadwin atau periode Penulisan dan Kodifikasi Hadits. Masa ini terjadi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz yakni sekitar tahun 99 hingga 102 H sampai akhir abad ke-2 H.

Periode Kelima

Dikenal dengan ‘Asr at-Tajird wa at-Tashshih wa at-Tanqih atau periode Pemurnian, Penyehatan, dan Penyempurnaan. Masa ini berlangsung sepanjang abad ke-3 H. Di masa ini, dilakukan pemecahan terhadap permasalahan hadits-hadits yang muncul dan belum diselesaikan pada periode sebelumnya. Pemisahan antara hadits nabi Muhammad SAW dengan fatwa para sahabat terjadi pada masa ini. Selain itu, muncul pula berbagai kitab hadits yang ditulis oleh para tokoh hadits.

Periode Keenam

Disebut dengan ‘Asr at-Tahzib wa at-Tartib wa al-Istidrak wa al-Jam’ atau periode Pemeliharaan, Penertiban, Penambahan, dan Penghimpunan Hadits. Dimulai dari abad ke-4 H hingga jatuhnya kota Baghdad pada tahun 655 H. Para ulama hadits sepakat menyebut para ahli hadits yang hidup sebelum abad ke-4 H sebagai mutaqaddimin (terdahulu). Sedangkan yang sesudahnya disebut muta’akhkhirin (belakangan).

Periode Ketujuh

Disebut dengan ‘Ahd asy-Syarh wa al-Jam’ wa at-Takhrij atau periode Pensyarahan, Perhimpunan, Pen-takhrij-an atau Pengeluaran Riwayat, dan Pembahasan. Masa ini dimulai dari saat jatuhnya kota Baghdad di masa pemerintahan Dinasti Abbasyiah oleh tentara Khulagu Khan hingga sekarang.

Disarikan dari Islam Digest-Republika edisi Ahad 10 Januari 2010.

Share

Tags: , , , , , , , , , ,

One Comment

Agus Taruno

04. Jan, 2011

Sedikit nasihat :
Dari hadits terungkap secara eksplisit bahwa urutan pemahaman dan penguasaan sumber hukum dalam Islam, yaitu : Pemahaman hampir semua umat islam tentang arti dari Sunnah Rosul adalah hadits. Pemahaman ini tidak benar. Sunnah rosul adalah segala tindakan (faal) dan perkataan (hadits) yang dilakukan oleh rosul s.a.w dalam menegakkan hukum islam di muka bumi. Jadi, sunnah rosul adalah sejarah perjuangan rosul s.a.w. dalam menegakkan hukum islam agar berlaku secara de facto dan de yure di muka bumi.
Perlu diketahui bahwa Rosul s.a.w pernah melarang sahabatnya menulis perkataan beliau selain dari pada ayat Al-Qur’an, karena Rosul s.a.w. khawatir umatnya kelak akan mengutamakan hadits dari pada Qur’an. Di samping itu, Hadits adalah perkataan rosul s.a.w. dalam menjabarkan ayat Qur’an pada saat turunnya. Perkataan manusia adalah bersifat fana, tidak kekal. Tetapi kalau ayat adalah adalah kekal, artinya akan benar 100%. Berbeda dengan hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat nabi dengan cara berantai, hal ini sangat rentan terhadap kesalahan penulisan karena daya ingat manusia adalah semakin menurun. Maka timbul istilah hadits lemah dan hadits kuat. Sebenarnya cara untuk menguji apakah hadits lemah atau kuat adalah dengan cara membandingkan hadits tersebut dengan ayat Qur’an yang terkait. Itulah gunanya kita mempelajari Qur’an lebih dulu sehingga kita tahu mana hadits yang benar mana yang salah. Dengan demikian pemahaman hadits tersebut di atas adalah kita harus bertindak.
Pertama: kita pelajari Kitabullah,yaitu Al-Qur’an lebih dulu
Kedua: baru kita pahami Sunnah Rosul
Jika kita memahami dengan urutan yang salah akan mengakibatkan kesesatan. Kita tidak tahu kenapa rosul berbuat dengan suatu tindakan kalau kita tidak memahami Al-Qur’an.

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect. best vpn canada