Zaman Hedonisme

Ditulis tanggal 11. May, 2010 oleh dalam 2. Pendidikan, Islam, Other

Number of View: 3783

Cerita rekaan seperti di bawah ini tentu kerap kita dengar. Dimana para orang tua ataupun anak-anaknya kerap menyombongkan diri dengan memamerkan harta yang mereka punya.

3 orang tua sedang berkumpul di sebuah rumah seorang kiai. Kebetulan ketiga orang ini termasuk yang sukses secara materi, mereka berbincang-bincang dengan seru.

Orang tua pertama, berkata, “Alhamdulillah, Allah telah memberikan aku rezeki yang berlimpah ruah. Hidupku sangat bahagia, punya 5 rumah mewah, kendaraan mewah 8 buah dan 15 perusahaan yang dikelola anak-anakku.”

Orang tua kedua, “Saya juga sangat bersyukur, lima anak saya bergelar doktor. Mereka menjadi rebutan para pengusaha terkenal, gaji mereka di atas 30 juta. Saya sebagai orang tuanya hidup sangat bahagia.”

Orang tua ketiga, “Alhamdulillah, saya ini punya 4 istri dan 8 anak. Semua anak saya sudah mapan, 4 orang menjadi asisten menteri, 4 orang menjadi direktur di perusahaan asing. Mereka semuanya sangat baik, jadi saya bisa bermain ke mana saja dengan fasilitas anak-anak.”

Dan pak kiai pun ikut berkata, “Wah, Alhamdulillah semua yang saya dengar dari bapak-bapak sangat hebat. Kalau saya jujur saja, di dunia ini belum ada yang bisa dibanggakan. Ibadah saya masih bolong-bolong, puasa suka tidak penuh, amal sangat sedikit. Bagaimana saya bisa hidup enak seperti bapak-bapak ini? Mudah-mudahan, saya bisa ikut menyombongkan diri kepada bapak-bapak di akhirat nanti. Soalnya saya baru bisa melihat sukses atau tidak hidup saya dan miskin atau kaya, baru nanti di akhirat kelak. Jadi saya tidak bisa sombong sekarang.”

Sepertinya kita yang hidup pada zaman sekarang semakin mengejar duniawi. Orientasi hidup hanya untuk kehidupan dunia. Jadi, tidak aneh melihat orang berbuat semau mereka, misalnya para koruptor, pencuri, pembunuh, dan sebagainya yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginan mereka.

Anak-anak sekarang senang dengan gaya hidup instan. Berbagai macam kontes, lomba, atau acara yang dapat membuat terkenal ramai diikuti dimana-mana. Hal ini tentu tidak terlepas dari peran orang tua, dimana justru mendukung cara hidup yang salah seperti itu. Pendidikan telah dinomor duakan atau mungkin dinomor berapa kan. Jadi, tidak heran kalau perilaku anak-anak sekarang menjadi lebih cepat dewasa — tapi sebagai besar berupa hal yang negatif — seperti adanya balita yang telah biasa merokok, anak SD (maaf) yang diperkosa  oleh kakak kelasnya. Naudzubilllah min dzalik.

Semoga kita dan anak kita terhindar dari segala perbuatan seperti itu.

Tags:

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.