Cara Mudah Tentukan Awal Ramadhan dan Lebaran

Ditulis tanggal 23. Aug, 2010 oleh dalam Islam

Number of View: 7436

Kajian kultum (kuliah tujuh menit) di mesjid di mana saya melaksanakan ibadah tarawih kemarin mengangkat topik yang menurut saya sangat informatif. Meski terkesan terlambat mengingat kemarin adalah malam ke-13 romadhon, topik mengenai cara menentukan awal ramadhan seperti tetap penting. Mengingat awal puasa pada tahun ini masih saja diwarnai dengan beragam perbedaan. Ada yang memulai berpuasa hari Senin, Selasa, dan bahkan ada yang memulai pada hari Kamis. Padahal pemerintah telah menetapkan 1 romadhon tahun ini jatuh pada hari Rabu, 11 Agustus 2010. Seperti yang kita ketahui bersama, ada beragam cara untuk menentukan awal dan akhir romadhon, yakni dapat dilakukan melalui salah satu dari tiga cara di bawah ini:

  1. Rukyatul hilal (melihat bulan sabit)
  2. Menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.
  3. Memperkirakan bulan sabit.

Pada cara pertama, yaitu melihat hilal atau bulan baru/sabit setelah ijtima’ (konjungsi) dan setelah wujud/muncul di atas ufuk pada akhir bulan dengan mata telanjang atau melalui alat. Cara ini dilakukan berlandaskan hadits

“Janganlah berpuasa (Ramadhan) sehingga kalian melihat hilal dan janganlah berhari raya sehingga kalian melihat hilal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Cara ini merupakan cara yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh semua orang, selama yang bersangkutan tidak memiliki cacat penglihatan. Hasil rukyat yang dilakukan seseorang muslim yang dapat dipercaya (amanah) dan tidak cacat dalam agamanya (adil) dapat dijadikan sebagai landasan untuk memutuskan tentang awal bulan Ramadhan. Hal itu sejalan dengan hadits : Ibnu Umar dia berkata bahwa ketika semua orang sedang memantau awal bulan maka sayalah yang melihatnya, lalu saya laporkan kepada Nabi kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan menyuruh seluruh kaum muslimin untuk berpuasa”. (HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni).

Namun bila para perukyat tidak berhasil melihat hilal pada tanggal 29 bulan Sya`ban baik keadaan langit berawan, mendung atau cerah, maka cara menentukan awal bulan Ramadhan dalam keadaan seperti ini adalah menjadikan bilangan bulan Sya`ban menjadi tiga puluh.

Cara ketiga adalah memperkirakan bulan sesuai dengan menzilahnya (posisi orbitnya).

Namun, tak dapat dipungkiri, ketiga cara di atas memerlukan dasar-dasar ilmu falaq. Dan mungkin, tidak banyak orang bisa melakukannya. Namun, ada satu cara praktis, cara yang lebih mudah, dan dapat diamalkan oleh semua orang meski yang bersangkutan tidak memahami ilmu falaq. Berikut caranya:

  1. Langkah pertama, kita harus tahu kapan tanggal 1 Muharram itu jatuh pada hari apa. Hal ini bisa kita lakukan dengan melihat kalender. Ambil contoh, bahwa 1 Muharram 1431 H kemarin jatuh pada tanggal 18 Desember 2009, yakni hari Jumat.
  2. Berpatokan pada hari di mana tanggal 1 Muharram ini jatuh, menentukan hari permulaan romadhon adalah pada hitungan ke-enam. Jadi hitungan dimulai dari hari Jumat (1), Sabtu (2), Minggu (3), Senin (4), Selasa (5) dan Rabu (6). Jadi hari permulaan romadhon adalah hari Rabu.
  3. Tanggal 1 Syawal juga ditentukan dari hari pertama Muharram ini. Artinya, hari 1 Syawal adalah sama dengan hari 1 Muharram.

Namun, perlu diingat, cara ini hanyalah cara praktis. Kita tetap harus mengembalikan dan mengikuti pemerintah dalam penentuan awal romadhon dan 1 syawal sesuai firman Allah dalam Quran surat An-Nisa ayat 59.

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Wallahu a’lam.

Tags: , , ,

Leave a reply

You must be logged in to post a comment.

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.