Vaksinasi Bukan (Hanya) Monopoli Bayi dan Anak

Ditulis tanggal 03. May, 2011 oleh dalam 1. Kesehatan Dewasa, Health

Telah dibaca : 5380

Siapa yang tak mengenal kata imunisasi. Bila mendengar istilah ini, mungkin gambaran yang muncul dalam setiap benak kita adalah kegiatan pemberian vaksin pada bayi dan anak, baik melalui suntikan ataupun dengan cara diminum. Tapi, tahukah Anda, sesungguhnya imunisasi tidak dimonopoli semata untuk bayi dan anak. Orang dewasa pun, ternyata butuh imunisasi.

Selama ini mungkin berkembang asumsi bahwa tubuh orang dewasa sudah terbentuk sempurna sehingga tidak lagi memerlukan vaksinasi. Asumsi ini ternyata keliru. Mengapa? Ternyata dengan semakin bertambah nya usia, sistem kekebalan tubuh pun menurun sehingga dibutuhkan imunisasi untuk membentengi tubuh dari serangan penyakit.

Menurut American Society of Internal Medicine, diketahui bahwa imunisasi pada orang dewasa dapat mencegah kematian seratus kali lipat akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin dibandingkan dengan anak. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa terdapat peluang besar untuk mencegah kematian pada orang dewasa melalui imunisasi.

Sayangnya, tak banyak orang dewasa itu sendiri yang mengetahui tentang imunisasi dewasa. Pun, manfaat imunisasi pada orang dewasa ternyata belum sepenuhnya diyakini oleh petugas kesehatan, apalagi oleh orang awam. Selama ini, khususnya di Indonesia, kebijakan imunisasi lebih menitikberatkan pada masalah bayi dan anak-anak. Memang tak dapat disalahkan sepenuhnya, mengingat masih tingginya angka kematian akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) pada bayi dan anak, yakni sekitar 1.7 juta kematian pada anak atau 5% pada balita di Indonesia. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) antara lain TBC, Diphteri, Pertusis, Campak, Tetanus, Polio, dan Hepatitis B merupakan salah satu penyebab kematian anak di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Hal ini, tak pelak mengakibatkan peranan imunisasi dewasa menjadi terabaikan. Selain itu, kurangnya sosialisasi kepada masyarakat menyebabkan minimnya pengetahuan masyarakat pada imunisasi orang dewasa.

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI), pada tahun 2003, telah mengeluarkan sebuah panduan bersama mengenai imunisasi pada orang dewasa. Panduan ini dikenal sebagai Konsensus Imunisasi Dewasa. Konsensus ini sendiri telah diperbaharui pada tahun 2008.

Penyakit Apa Saja yang Dapat Dilakukan Imunisasi?

Imunisasi yang dibutuhkan orang dewasa, antara lain, agar terhindar dari penyakit-penyakit infeksi, seperti influenza, tetanus, difteri, hepatitis A, hepatitis B, tetanus, Measles Mumps Rubella, tifoid, pneumokokus, meningokok, yellow fever, Japanese encephalitis, rabies, dan kanker serviks.

Siapa Saja yang Perlu Diimunisasi?

Ada sejumlah kelompok orang dewasa yang sebaiknya mendapatkan vaksin. Misalnya orang dewasa yang berusia di atas 50 tahun (sebagian mengatakan usia di atas 65 tahun). Contoh vaksin yang diperlukan misalnya influenza. Kelompok usia ini rentan mendapatkan penyakit sebangsa flu karena sistem kekebalan tubuh yang sudah menurun.

Kelompok berikutnya adalah orang dewasa dengan penyakit menahun (kronik) meskipun usia mereka belum digolongkan usia lanjut. Mereka dengan penyakit-penyakit kronis misalnya penderita penyakit paru-paru kronis, kencing manis (diabetes melitus), dan gagal ginjal, rentan mendapatkan penyakit dikarenakan sistem kekebalan tubuh yang menurun akibat penyakit ini.

Kelompok orang dewasa lainnya yang perlu mendapatkan imunisasi adalah para petugas kesehatan. Mereka ini memerlukan vaksinasi karena pekerjaan mereka sangat berisiko untuk tertular penyakit. Misalnya hepatitis B ataupun influenza.

Para pekerja yang bergerak di bidang industri makanan, khususnya yang berperan sebagai pengolah atau penyaji makanan. Mereka, terutama yang bekerja dengan tangan telanjang, sebaiknya mendapatkan vaksinasi karena mereka dapat menjadi sumber penularan penyakit tertentu misalnya tifoid.

Kelompok lainnya adalah orang dewasa yang akan berpergian ke luar negeri. Misalnya para calon jemaah haji yang perlu bahkan wajib, mendapatkan vaksinasi meningitis. Atau mereka yang akan berangkat ke Afrika Selatan, sebaiknya mendapatkan vaksinasi Yellow fever.

Secara ringkas dari panduan konsensus imunisasi dewasa 2008, jenis vaksinasi yang dapat diberikan didasarkan pada riwayat paparan penyakit tertentu, risiko penularan penyakit tertentu, usia lanjut, status kekebalan tubuh atau imunokompromais, pekerjaan, gaya hidup dan rencana bepergian.

  • Riwayat paparan : Tetanus toksoid., Rabies
  • Risiko penularan : Influenza, Hepatitis A, Tifoid, MMR.
  • Usia lanjut : Pneumokok, Influenza.
  • Risiko pekerjaan : Hepatitis B, Rabies.
  • Imunokompromais : Pneumokok, Influenza, Hepatitis B. Hemophilus influenza tipe B.
  • Rencana bepergian : Yellow fever, Japanese B ence­phalitis, Tifoid, Hepatitis A.
  • Jemaah haji : Meningokok ACYW 135., Influenza

Penting untuk diketahui, bahwa imunisasi dewasa belum ada program yang dibiayai oleh pemerintah seperti halnya kebijakan imunisasi pada anak. Karena itu penggunaan indikasi ini perlu mempertimbangkan keadaan individu yang akan diimunisasi. Misalnya, imunisasi pada usia lanjut perlu mendapat perhatian karena data-data tentang manfaat imunisasi influenza dan pnemokok pada usia lanjut menunjukkan bahwa imunisasi ini bermanfaat dan cost effective. Selain itu, imunisasi pada Heptitis B perlu mendapat perhatian meningat tingginya risiko penularan Hepatitis B di kalangan petugas kesehatan.

Kapan Imunisasi Diberikan?

Berikut adalah jadwal imunisasi dewasa yang direkomendasikan oleh PAPDI tahun 2010.

Jadwal-Imunisasi-PAPDI-2010

Sedangkan jadwal berikut, adalah yang dianjurkan oleh CDC Amerika.

tabel-imunisasi-satu